Realita Menjadi Dewasa

Tahun 2000 ternyata sudah 26 tahun yang lalu.

Dulu, di tahun itu, yang kupikirkan hanya bermain bersama teman, pulang ke rumah, makan, nonton TV, pergi ngaji, main bola sore-sore, pulang sebelum maghrib, makan malam, lalu tidur. Sesederhana itu.

Yang paling berat mungkin hanya ketika menerima omelan Om-ku. Sesekali sampai membuatku menangis karena beliau sering menuntutku untuk ini dan itu. Harus sering ke masjid, aktif di organisasi, ikut kegiatan, menyolatkan orang meninggal, bersilaturahmi dengan keluarga, dan berbagai hal yang menurutku waktu itu terlalu berat untuk seorang anak sepertiku.

Aku memang anak yang introvert. Keluar rumah biasanya hanya kalau mau bermain. Ketika bersama teman pun, fokusku lebih banyak ke permainannya daripada menikmati obrolannya. Main nekeran atau gundu, main wong-wongan, action figure sederhana yang dulu bisa dimainkan berjam-jam, atau main PS. Itu saja sudah cukup membuat hari terasa menyenangkan. Itupun aku sering kalah. Dan kalau kalah, aku sering menangis.

Kalau dipikir-pikir sekarang, justru hal-hal sepele seperti itu yang paling kurindukan. Tidak punya tuntutan kesibukan, tidak berpikir tentang tanggung jawab besar, tidak memikirkan banyak orang. Egois dalam arti yang sangat sederhana: yang penting aku senang. Yang penting nurut kata Ibu supaya tidak dimarahi.

Di sekolah juga begitu. Turuti saja kata Bapak dan Ibu Guru supaya tidak kena marah.

Dulu aku secuek itu ternyata.

Aku memang penurut. Aku tahu aturan dan berusaha mengikutinya. Tapi aku tidak terlalu memikirkan bagaimana caranya bersosialisasi dengan orang lain.

Sampai akhirnya aku mulai memahami sesuatu tentang diriku sendiri. Aku mulai bertemu dengan orang-orang introvert lainnya. Dari situ aku berpikir, mungkin orang seperti kami memang tidak selalu suka diganggu. Mungkin mereka hanya akan banyak bicara ketika memang membutuhkan sesuatu.

Lalu muncul pertanyaan di kepalaku: kalau begitu, apa aku harus membantu ketika mereka membutuhkan bantuan?

Sejak saat itu, setiap ada teman yang meminta bantuan, aku berusaha membantu sebisa yang aku bisa. Kadang aku justru bingung harus membantu seperti apa ketika orang lain tidak bercerita. Apalagi kalau orang tersebut sama-sama introvert sepertiku.

Tapi di sisi lain, aku juga punya keinginan yang sebenarnya sangat sederhana. Kalau suatu saat aku sedang kesulitan, aku ingin ada orang yang peka. Aku ingin seseorang tahu bahwa aku sedang membutuhkan bantuan, bahkan ketika aku tidak mengatakannya.

Aku ingin menjadi orang yang seperti itu bagi teman-temanku.

Mungkin, tanpa kusadari, itulah caraku mencari teman. Aku ingin berguna bagi mereka, supaya suatu hari mereka juga akan ada untukku.

Ternyata ada juga orang-orang yang tidak perlu dikulik untuk tahu apa yang mereka butuhkan. Mereka sendiri yang menampilkan apa yang mereka rasakan. Mereka asyik diajak bertukar pendapat tanpa harus diminta. Mereka bisa memberikan hiburan dan kehangatan tanpa harus kita minta.

Aku ternyata membutuhkan orang-orang seperti itu.

Aku butuh cerita lucu, butuh gosip-gosip kecil, butuh informasi terbaru, butuh obrolan yang tidak penting tapi membuat hari terasa lebih ringan. Dan aku melihat orang-orang seperti itu biasanya punya banyak teman.

Aku pun ingin seperti mereka.

Aku ingin punya banyak teman. Aku membayangkan, suatu saat nanti teman-temanku bisa membantuku tanpa harus kuminta. Bisa mengajakku melakukan hal-hal menyenangkan. Bisa datang ketika aku membutuhkan seseorang.

Aku ingin seperti mereka.

Maka aku belajar menjadi bukan diriku sendiri.

Di SMA, aku belajar berakting. Aku masuk teater. Aku belajar menjadi orang lain. Aku yang pendiam belajar menjadi ramai. Aku yang kaku belajar menjadi ramah. Bahkan aku bisa memainkan karakter orang gila dengan perubahan mood yang macam-macam.

Dan ternyata berhasil.

Aku punya banyak teman di SMA. Aku bisa masuk ke banyak kelompok. Aku bisa bergaul dengan siapa saja. Aku bisa masuk ke tongkrongan anak-anak yang pintar, bisa masuk ke tongkrongan yang suka bercanda, dan bisa menyesuaikan diri dengan berbagai macam karakter orang.

Aku belajar menjadi orang yang bisa masuk ke semuanya.

Ketika kuliah, kemampuan itu semakin terasah. Aku pindah kota dan bertemu dengan teman-teman dari berbagai pelosok Indonesia. Aku punya banyak teman. Banyak sekali.

Aku bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Aku bisa berbicara dengan banyak orang. Aku bisa bercanda. Aku bisa mengikuti obrolan. Dari luar, mungkin orang akan melihatku sebagai orang yang mudah bersosialisasi.

Padahal sebenarnya tidak sepenuhnya begitu.

Di balik semua itu, aku masih menyimpan diriku yang asli. Aku tetap seorang introvert. Bertemu dengan banyak orang membutuhkan energi yang lebih besar buatku. Setelah terlalu lama berada di tengah banyak orang, aku tetap membutuhkan waktu untuk sendiri. Saat sendiri, justru di situlah aku merasa kembali menjadi diriku sendiri.

Jadi, sebenarnya aku bukan berubah menjadi ekstrovert. Aku hanya belajar memainkan peran agar bisa diterima.

Dan aku cukup pandai melakukannya.

Tapi kemudian aku sadar sesuatu.

Ternyata punya banyak teman tidak otomatis membuat seseorang punya sahabat.

Aku punya banyak teman. Tapi kalau ditanya siapa yang benar-benar akan ada ketika aku membutuhkan bantuan tanpa harus kuminta, aku kesulitan menjawab.

Aku belum menemukan orang seperti itu.

Aku tidak punya teman yang selalu berdua denganku. Tidak punya geng kecil yang selalu bersama. Tidak punya satu sosok teman laki-laki yang rasanya bisa kuhubungi kapan saja, bisa diajak ngobrol apa saja, atau sekadar datang ketika aku sedang tidak baik-baik saja.

Bukan berarti tidak ada orang baik di sekitarku. Ada. Banyak malah. Tapi masing-masing orang juga punya kehidupannya sendiri.

Mereka punya keluarga, pekerjaan, pasangan, dan tanggung jawab. Kalau mereka ingin meluangkan waktu untukku, mungkin mereka harus mengorbankan prioritas lain.

Dan sejauh ini, aku belum menemukan orang yang memilih mengorbankan prioritas itu untukku.

Mungkin itu sebabnya aku merasa sendiri.

Padahal kalau dilihat dari luar, aku punya banyak kenalan.

Kemudian aku masuk ke dunia kerja.

Prinsip yang dulu kupakai dalam berteman ternyata ikut terbawa ke pekerjaanku. Aku selalu berusaha memperlakukan orang lain seperti aku ingin diperlakukan. Aku berusaha berempati.

Di dunia kerja bahkan ada istilah design thinking, tentang bagaimana kita mencoba memahami kebutuhan orang lain, memahami perjalanan seorang customer, dan melihat sesuatu dari sudut pandang mereka. Kalau aku menjadi customer, apa yang kuinginkan? Kalau aku berada di posisi mereka, apa yang membuatku nyaman?

Prinsip itu akhirnya kupegang hampir di semua hal.

Aku mencoba memahami kebutuhan orang lain sebelum mereka mengatakannya. Aku mencoba membantu sebelum diminta. Aku mencoba memberikan yang terbaik.

Tapi lama-lama aku sadar ada sesuatu yang salah.

Mental melayani itu ternyata bisa membuat seseorang lupa bahwa dirinya juga perlu dilayani.

Aku terlalu sering melihat kebutuhan orang lain sampai lupa melihat kebutuhanku sendiri.

Aku terlalu sibuk bertanya, “Apa yang mereka butuhkan?” sampai lupa bertanya, “Apa yang sebenarnya aku butuhkan?”

Dan lucunya, semua itu berawal dari keinginanku yang sederhana. Aku ingin diperhatikan. Aku ingin ada orang yang peka terhadapku. Aku ingin ada orang yang membantuku tanpa harus kuminta.

Tapi justru karena terlalu sibuk membantu orang lain, aku malah semakin sering mengesampingkan diriku sendiri.

Aku memberikan begitu banyak, tapi yang kudapatkan tidak selalu sebanding.

Bukan karena orang lain jahat. Mungkin karena memang mereka tidak tahu. Mungkin karena aku tidak pernah mengatakan bahwa aku juga butuh bantuan.

Aku terlalu sibuk menunjukkan bahwa aku bisa.

Aku bisa membantu. Aku bisa diandalkan. Aku bisa menyelesaikan ini. Aku bisa mengurus itu.

Sampai akhirnya orang-orang percaya bahwa aku memang selalu bisa.

Padahal sebenarnya tidak.

Kemudian aku berkeluarga.

Di sinilah definisi tentang dewasa mulai terasa lebih nyata.

Aku bukan lagi hanya bertanggung jawab terhadap diriku sendiri. Aku menjadi kepala keluarga. Ada istri, ada anak, ada rumah, ada pekerjaan, ada kebutuhan, ada tagihan, ada lingkungan, dan ada berbagai macam tanggung jawab yang tidak bisa begitu saja kutinggalkan hanya karena aku sedang lelah.

Dulu Om-ku sering menyuruhku bersosialisasi. Harus sering ke masjid, harus aktif di organisasi, harus membantu orang, harus bersilaturahmi, harus ikut kegiatan di lingkungan.

Dulu aku mungkin merasa semua itu adalah tuntutan yang mengganggu.

Tapi ternyata pesan itu tidak sepenuhnya salah.

Pada akhirnya aku benar-benar menjalani semua itu. Hanya saja bukan dengan cara yang dulu Om-ku bayangkan.

Aku bersosialisasi di sekolah. Aku belajar bergaul di SMA. Aku membangun relasi ketika kuliah. Aku berusaha berinteraksi ketika bekerja. Setelah berkeluarga pun aku tetap mencoba terlibat di lingkungan.

Bahkan sekarang aku ikut membantu lingkungan sebagai sekretaris RW.

Awalnya sederhana. Aku memang ingin membantu. Kalau aku punya waktu dan kemampuan, kenapa tidak?

Tapi ternyata menjadi dewasa membuat satu hal menjadi sangat jelas: waktu kita terbatas.

Aku hanya punya 24 jam.

Aku tidak bisa membantu semua orang. Aku tidak bisa menjadi kepala keluarga yang selalu tersedia, karyawan yang selalu memberikan yang terbaik, anggota lingkungan yang selalu hadir, teman yang selalu siap membantu, sekaligus menjadi diriku sendiri dalam waktu yang bersamaan.

Aku harus memilih.

Aku harus menentukan prioritas.

Dan ketika satu hal menjadi prioritas, sering kali ada hal lain yang harus menunggu.

Sebagai karyawan, tentu pekerjaan utama menjadi prioritas. Dari sanalah aku mendapatkan penghasilan untuk keluargaku. Maka ketika pekerjaan membutuhkan tenaga dan waktu, aku harus memberikannya.

Setelah itu barulah aku bisa memberikan waktu untuk yang lain: keluarga, lingkungan, teman, dan diriku sendiri.

Masalahnya, semua orang juga membutuhkan sesuatu dariku.

Aku ingin membantu semuanya.

Tapi aku hanya satu orang.

Dan ternyata menjadi dewasa adalah belajar menerima kenyataan bahwa kita tidak mungkin bisa memenuhi semuanya.

Dulu aku pikir menjadi dewasa itu enak.

Punya uang sendiri. Bisa membeli apa yang kita mau. Tidak perlu terlalu banyak dimarahi orang tua. Bisa mengambil keputusan sendiri. Bisa melakukan apa saja.

Ternyata aku salah.

Menjadi dewasa bukan tentang bisa melakukan apa saja.

Justru semakin dewasa, semakin banyak hal yang tidak bisa kita lakukan karena kita harus memikirkan konsekuensinya.

Dulu kalau mau bermain, ya tinggal bermain.

Sekarang kalau ingin pergi, harus melihat pekerjaan. Harus melihat keluarga. Harus melihat kebutuhan anak. Harus melihat kondisi rumah. Harus melihat keuangan. Harus melihat banyak hal lainnya.

Dulu aku tidak tahu apa itu prioritas.

Sekarang hampir setiap hari aku harus membuat prioritas.

Mana yang harus dikerjakan dulu? Mana yang bisa ditunda? Mana yang penting? Mana yang harus dikorbankan?

Dan ternyata hidup orang dewasa banyak berisi keputusan seperti itu.

Kadang kita memilih pekerjaan dan mengorbankan waktu bersama keluarga. Kadang kita memilih keluarga dan harus menunda pekerjaan lain. Kadang kita ingin membantu orang lain, tapi ternyata diri sendiri sedang kehabisan tenaga.

Kadang kita ingin beristirahat, tapi ada tanggung jawab yang tetap harus diselesaikan.

Begitulah.

Menjadi dewasa ternyata bukan tentang memiliki kebebasan tanpa batas. Menjadi dewasa justru tentang memiliki banyak tanggung jawab, dengan waktu dan tenaga yang terbatas.

Dan di tengah semua itu, aku masih menjadi diriku yang dulu.

Seorang introvert yang sebenarnya ingin sesekali sendiri.

Aku ingin me time. Aku ingin melupakan semuanya sebentar. Tidak menjadi karyawan. Tidak menjadi kepala keluarga. Tidak menjadi sekretaris RW. Tidak menjadi orang yang harus membantu siapa pun.

Aku hanya ingin menjadi aku.

Tapi di sisi lain, aku juga sadar bahwa aku tidak selalu ingin sendiri.

Aku juga butuh seseorang.

Aku butuh teman.

Bukan sekadar teman untuk nongkrong. Bukan sekadar teman untuk bercanda. Bukan sekadar teman yang ada ketika semuanya sedang baik-baik saja.

Aku ingin seseorang yang sesekali bertanya, “Lo baik-baik aja?”

Dan mungkin, lebih dari itu, seseorang yang bisa melihat bahwa sebenarnya aku sedang tidak baik-baik saja meskipun aku tidak mengatakannya.

Aku ingin dibantu tanpa harus selalu meminta.

Aku ingin didengarkan.

Dan sebenarnya, mungkin aku tidak selalu butuh nasihat. Kadang aku hanya ingin ada seseorang yang tahu bahwa aku sedang lelah. Lalu bilang, “Udah, sini. Gue bantu.”

Sesederhana itu.

Mungkin selama ini aku terlalu sibuk menjadi orang yang bisa diandalkan.

Aku ingin menjadi orang yang suportif. Aku ingin menjadi orang yang membantu. Aku ingin menjadi orang yang memahami orang lain. Aku ingin memperlakukan orang lain seperti aku ingin diperlakukan.

Tapi ternyata ada satu hal yang lupa kulakukan: memperlakukan diriku sendiri seperti aku ingin diperlakukan.

Aku juga perlu memahami diriku. Aku juga perlu mendengarkan diriku. Aku juga perlu istirahat. Aku juga boleh bilang tidak. Aku juga boleh meminta bantuan.

Dan mungkin yang paling sulit, aku juga harus menerima kenyataan bahwa tidak semua orang akan membalas apa yang kita berikan dengan cara yang sama.

Bukan berarti kebaikan kita sia-sia. Bukan berarti orang lain tidak menghargai kita.

Hanya saja setiap orang punya hidupnya sendiri. Setiap orang punya prioritasnya sendiri. Setiap orang juga sedang berjuang dengan bebannya masing-masing.

Mungkin itu juga yang akhirnya membuatku memahami teman-temanku.

Mereka bukan tidak peduli.

Mungkin mereka juga sedang berusaha menjadi dewasa.

Mereka juga sedang memilih prioritas.

Mereka juga hanya punya 24 jam.

Jadi kalau sekarang aku bilang, “Aku tidak punya teman,” mungkin itu tidak sepenuhnya benar.

Aku punya banyak teman.

Aku hanya belum punya teman yang benar-benar terasa seperti tempat bersandar.

Dan mungkin, itu yang sebenarnya selama ini kucari.

Bukan banyak teman. Bukan tongkrongan besar. Bukan orang-orang yang selalu ada di setiap kesempatan.

Aku hanya ingin satu atau dua orang yang benar-benar bisa saling menjaga.

Teman yang tidak harus setiap hari bertemu. Tidak harus setiap hari mengobrol. Tapi ketika salah satu sedang jatuh, yang lain tahu kapan harus datang.

Tanpa banyak pertanyaan.

Tanpa perlu penjelasan panjang.

Mungkin karena semakin dewasa, kita akhirnya sadar bahwa yang kita cari bukan lagi keramaian.

Kita mencari rasa aman.

Kita mencari seseorang yang bisa berkata, “Gue ada di sini.”

Dan mungkin, setelah selama ini aku belajar bagaimana caranya menjadi orang yang ada untuk orang lain, sekarang aku juga sedang belajar sesuatu yang baru.

Bahwa aku tidak harus selalu kuat.

Aku tidak harus selalu membantu.

Aku tidak harus selalu menjadi orang yang paling mengerti.

Aku boleh membutuhkan orang lain.

Aku boleh merasa lelah.

Aku boleh ingin diperhatikan.

Aku boleh ingin dibantu.

Karena ternyata menjadi dewasa bukan berarti kita sudah tidak membutuhkan siapa-siapa.

Justru mungkin, semakin dewasa kita semakin sadar bahwa kita tidak mungkin menjalani semuanya sendirian.

Dulu, ketika masih kecil, hidupku hanya tentang bermain, makan, mengaji, menonton TV, lalu tidur.

Sekarang hidupku penuh dengan pekerjaan, keluarga, tanggung jawab, keputusan, dan berbagai macam prioritas.

Dulu aku ingin cepat-cepat menjadi dewasa karena kupikir orang dewasa bisa melakukan apa saja.

Sekarang aku justru mengerti kenapa dulu anak kecil cukup bahagia hanya dengan bermain bola sebelum maghrib.

Karena mungkin, pada saat itu, hidup belum meminta kita untuk menjadi siapa-siapa.

Kita hanya perlu menjadi diri sendiri.

Dan mungkin itu juga yang sekarang sedang kupelajari lagi.

Di tengah semua tanggung jawab sebagai orang dewasa, aku ingin kembali menemukan diriku sendiri.

Bukan menjadi orang lain agar disukai. Bukan menjadi orang yang selalu bisa membantu. Bukan menjadi orang yang selalu terlihat kuat.

Tapi menjadi diriku sendiri.

Seorang manusia yang ternyata masih ingin diperhatikan. Masih ingin punya teman. Masih ingin dibantu. Masih ingin didengarkan.

Dan mungkin, itu bukan tanda bahwa aku gagal menjadi dewasa.

Mungkin justru itulah salah satu bagian paling jujur dari menjadi dewasa:

Kita akhirnya sadar bahwa sekuat apa pun kita berusaha menjadi tempat bersandar bagi orang lain, kita sendiri tetap membutuhkan tempat untuk bersandar.


Sabtu, 22 Agustus 2026

- Copyright © Najib Nasich Blog